Hati-Hati, Gejala Covid-19 Happy Hypoxia

Nyaris sudah delapan bulan semenjak China mengumumkan adanya virus corona yang menyebar melalui pecikan air liur saat seseorang batuk atau bersin, ada sebuah gejala baru dari pasien Covid-19 yang cukup mengkhawatirkan. Dan ini membuat Anda harus berhati-hati.

happy hipoxia

Para dokter memperhatikan tren yang sedang terjadi yaitu happy hypoxia sebagai salah satu gejala baru dari infeksi virus ini. Happy hypoxia adalah kondisi yang muncul ketika kadar oksigen pada tubuh seseorang menurun drastis. Umumnya, kondisi ini akan menimbulkan gejala sesak napas, batuk-batuk, detak jantung sangat cepat, serta napas yang berbunyi.

Happy hypoxia pembunuh diam-diam

Kondisi ini di mana tingkat saturasi oksigen darah yang mendekati normal lebih dari 90%, dengan tingkat normal pada angka 94-100%. Jika pasien tercatat memiliki angka yang lebih rendah dari angka tersebut, otak  mungkin tidak akan mendapatkan oksigen yang dibutuhkan sehingga bisa menyebabkan kelelahan dan kebingungan, dan, jika levelnya turun ke 80-an, hal tersebut dapat merusak organ vital bahkan bisa menyebabkan kematian.

Yang lebih mengerikan seorang pasien Covid-19 yang menderita hipoksia terlah terdeteksi bahwa paru-parunya berisi cairan atau nanah, tetapi pasien tersebut tidak merasakan apapun, bahkan kesulitan bernapas pun tidak.

Kondisi tersebut membuat bingung beberapa dokter, karena pasien tidak merasakan gejala apapun. Bahkan pada beberapa kasus pasien merasa nyaman saat dokter memasukkan selang pernapasan yang menghubungkan pasien dengan ventilator. Padahal pada kondisi tersebut adalah masa berbahaya dan bisa saja menyebabkan kematian.

Jadi secara diam-diam pasien akan mengalami kerusakan pada paru-parunya. Padahal tubuh kita telah dirancang untuk merespon bahaya dengan sinyal perlindungan yang tepat untuk memperingatkan kita jika ada sebuah ancaman, namun tidak pada gejala ini.

Jika dokter dapat mengenali gejala tersebut sejak dini, tentu hal ini dapat diobati dengan melakukan terapi oksigen (melalui selang hidung, masker wajah, ataupun selang yang ditempelkan pada tenggorokan.

Pencegahan

Untuk mencegah happy hypoxia, kerusakan paru-paru yang menyebabkannya harus dicegah terlebih dahulu. Dengan cara melakukan pemantauan oksigen dalam tubuh menggunakan alat oksimeter denyut yang dapat membantu mendeteksi kadar oksigen yang rendah.

Skrining oksimetri nadi secara luas digunakan pada pasien Covid-199 dengan pneumonia, jadi dapat memberikan peringatan dini terhadap gejala lain.

Dampak happy hypoxia pada tubuh

Dokter mengatakan bahwa gejala ini tidak menunjukkan gejala apapun apda tubuh. Namun, pada akhirnya pasien akan mengalami sesak napas dan bisa mengnyebabkan gagal napas hingga kematian.

Apa penyebab hypoxia?

Ada beberapa hipotesis yang menyebabkan hypoxia pada pasien Covid-19, beberapa dokter mengira bahwa terjadinya pembekuan darah di paru-paru yang memicu protein dan mencegah darah mendapatkan oksigen yang diperlukan.

Hal lain yang bisa jadi penyebabnya adalah adanya penurunan oksigen yang lambat namun stabil pada pasien aklimatisasi yang mengurangi oksigen tanpa menyadarinya. Akan tetapi sampai saat ini masih belum diketahui penyebab pastinya.

Yang jelas dari happy hypoxia adalah dapat menyebabkan sesak napas secara tiba-tiban, namun pada saat itu kerusakan paru-paru sudah semakin parah sehingga menambah tekanan pada tubuh untuk berjuang melawan virus corona.

Hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah happy hypoxia adalah dengan memantau dan mendeteksi dini dengan menggunakan oksimeter denyut nadi yang telah disampaikan di atas. Diharapkan dengan alat tersebut kita dapat mengetahui lebih awal gejala hypoxia yang mematikan ini.

Hidup Sehat

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*