Sebelum Pasangan Menjauh, Lakukan Cara Menghilangkan Sifat Posesif Ini

Rasa sayang dan sifat posesif hanya dipisahkan oleh sekat yang sangat tipis. Kadang seseorang bersikap posesif tanpa menyadarinya. Dalam benaknya, perilaku ingin memiliki pasangan seutuhnya diterjemahkan sebagai wujud rasa sayang. Namun, hal tersebut keliru dan sebaiknya tidak dibiarkan.

Seseorang yang memiliki sifat posesif kadang tidak memahami batasan pribadi. Suatu garis yang harus dihargai dan tidak boleh dilanggar. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat saling menghargai independensi masing-masing.

Cara menghilangkan sifat posesif

Sifat posesif cenderung membuat seseorang bertindak sewenang-wenang. Menghilangkan sifat ini bukan hanya penting dalam rangka menjaga kelanggengan hubungan, melainkan juga lebih sehat bagi relasi itu sendiri. Sebab sifat ini dikelompokkan ke dalam salah satu tanda abusive relationship.

Nah, demi memiliki hubungan yang sehat dan berusia panjang, sebaiknya sifat posesif dihilangkan dengan cara-cara di bawah ini.

1. Memahami alasan di balik perilaku posesif

Sebagian orang yang bertindak posesif tidak menyadari bahwa hal tersebut tidak baik dan mengganggu pasangan. Beberapa di antaranya, baru menyadari hal tersebut saat pasangan mengeluhkan sikapnya. Oleh sebab itu, penting untuk memahami asal kemunculan atau alasan di balik perilaku posesif tersebut.

Dengan kadar yang berbeda, insecurity merupakan bagian dari setiap orang. Pada beberapa orang, rasa tidak aman tersebut termanifestasi dalam perilaku-perilaku posesif.

Untuk menyelesaikannya, maka akar permasalahan dari ketakutan itu perlu ditelusuri. Berdamai dengan pemicu perilaku posesif akan membantu seseorang terbebas dari sifat posesif.

2. Memahami bahwa Anda tidak berhak mengatur pasangan

Orang dengan sifat posesif umumnya seorang pencemburu, otoriter, merasa berhak mengatur dan menghukum pasangan jika ada hal yang tak sesuai keinginannya. Lebih parah lagi, sebagai pelaku, mereka justru sering menampilkan diri sebagai korban atau playing victim, sehingga pasangannya justru akan merasa sangat bersalah.

Mengatasi hal tersebut perlu dimulai dari pemahaman bahwa setiap orang memiliki hak individu dan orang lain tidak berhak mengaturnya. Jika sudah memiliki pemahaman ini, maka semua pihak dalam relasi akan lebih bisa menahan diri agar tidak mengatur pasangan. Perlu diingat, memberi perhatian tidak sama dengan mengontrol pasangan.

3. Berkomunikasi dengan pasangan

Sepertinya nasihat ini sudah ribuan kali Anda dengar, komunikasi merupakan kunci langgengnya suatu hubungan. Anda akan terus mendengarnya sebab hal tersebut memang benar.

Ada banyak persoalan di dalam relasi yang dapat diatasi dengan komunikasi yang terbuka, sifat posesif tidak terkecuali. Bersama dengan pasangan, bicarakanlah terkait perilaku posesif ini: apa hal yang diduga menjadi pemicunya, tindakan apa yang memunculkan perilaku posesif tersebut, bagaimana perasaan Anda, dan seterusnya.

Dengan demikian, Anda dan pasangan dapat saling memahami perasaan masing-masing. Tidak berhenti sampai di sana, masalah tersebut pun dapat dibicarakan secara  dewasa dan dicari penyelesaiannya.

Perlu diingat, relasi melibatkan dua orang, sehingga upaya mempertahankannya pun harus merupakan keputusan kedua belah pihak. Dengan berkomunikasi diharapkan setiap persoalan dapat diselesaikan bersama dan hubungan pun dapat terjaga.

Apabila cara-cara di atas tidak dapat mengatasi sifat posesif yang Anda miliki. Maka, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan profesional. Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog yang Anda percaya.

Dalam proses konseling, libatkan juga pasangan Anda. Mintalah pasangan untuk mendampingi proses ini, bila memang dari kedua belah pihak masih berharap untuk mempertahankan relasi.

Hidup Sehat

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*